Student Hidjo Book Pdf ePub

Student Hidjo

by
3.02205 votes • 41 reviews
Published 01 Jan 1970
Student Hidjo.pdf
Format Paperback
Pagesunknow
Edition4
Publisher unknow
ISBN 9799581729
ISBN139789799581723
Languageind



Student Hijo karya Marco Kartodikromo, terbit pertama kali tahun 1918 melalui Harian Sinar Hindia, dan muncul sebagai buku tahun 1919. Merupakan salah satu perintis lahirnya sastra perlawanan, sebuah fenomena dalam sastra Indonesia sebelum perang.
Novel ini mencoba berkisah tentang awal mula kelahiran para intelektual pribumi, yang lahir dari kalangan borjuis kecil, dan secara berani mengkontraskan kehidupan di Belanda dan Hindia Belanda. Hingga menjadi masuk akal jika novel ini kemudian dipinggirkan oleh dominasi dan hegemoni Balai Pustaka, bahkan sampai saat ini.
Mas Marco secara lugas juga menunjukkan keberpihakannya kepada kaum bumiputra. Ia menggunakan tokoh Controleur Walter sebagai tokoh penganut politik etis yang mengkritik ketidakadilan kolonial terhadap rakyat Jawa atau Hindia.

"Student Hidjo" Reviews

Abduraafi
- Jakarta, Indonesia
3
Sat, 23 Jan 2016

Lha. Drama abis. Yang termaktub di kepala hanya Hidjo dan kisah romansanya. Ada sedikit cerita tentang kontrasnya Bumiputera (sebutan untuk orang Hindia/pribumi jaman dulu) dengan Belanda (orang Belanda) pada masanya, tapi kadarnya hanya sebagai penyedap rasa.
Mengutip dari blurb pada sampul belakang: Novel ini pertama kali ditulis tahun 1918 sebagai cerita bersambung di "Harian Sinar Hindia", kemudian terbit sebagai buku tahun 1919. Aku bertanya-tanya orang-orang pada jaman itu juga menyukai kisah romansa--sama seperti orang-orang yang hidup pada masa sekarang--mengingat pada tahun-tahun itu negeri ini masih dijajah.
Diulas bersama hal-memalukan-sekaligus-membanggakan di sini: http://bibliough.blogspot.co.id/2016/...

Melissa
- Jakarta, 04, Indonesia
3
Tue, 19 Jul 2016

Ceritanya sederhana, bahasanya ringan, ada saat penulis berinteraksi dengan pembaca. Deskriptif dalam hal menggambarkan suasana/background di jaman itu, sehingga seperti dibawa ke Solo di tahun 1800an. Hanya saja judulnya sedikit membuat pembaca punya "harapan" sendiri akan isi ceritanya. Yang pada akhirnya ternyata berbeda. Karena tidak ada cerita tentang kehidupan "Student", buku ini murni menceritakan tentang percintaan anak muda jaman itu dengan segala permasalahannya.
Menarik. Ada saatnya kita membutuhkan buku yang ceritanya mengalir begitu saja tanpa perlu banyak perdebatan antara pemikiran penulis dan pembaca.

A.J.
- Jakarta, 04, Indonesia
3
Mon, 14 Feb 2011

Tak Hanya Soal Perkawinan atau Perjodohan, Tapi Melawan Penjajahan
Membaca novel yang ditulis hampir satu abad yang lalu, seperti Student Hidjo karya Marco Kartodikromo ini tentu membutuhkan banyak referensi terutama sejarah agar pembacaannya menjadi kaya dan menemukan keindahan dari ungkapan kata-kata maupun setting yang digunakan. Student Hidjo pernah dimuat sebagai cerita bersambung di Surat Kabar Harian Sinar Hindia tahun 1918. Diterbitkan pertama kali oleh N.V. Boekhandel en Drukkerij Masman & Stroink Semarang, 1919. Kini diterbitkan kembali oleh Penerbit Bentang Yogyakarta justru tanpa tahun. Entahlah kenapa. Walau begitu kemunculan kembali novel ini diketahui pada tahun 2000. Selain diterbitkan oleh Bentang, juga diterbitkan Aksara Indonesia, juga berdomisili di Yogyakarta.
Pada pendahuluan yang dibuat pada tanggal 26 Maret 1919, Marco Kartodikromo, tanpa gelar Mas di depannya, menjelaskan bahwa Student Hidjo merupakan buah pena waktu menjalani hukuman perkara persdelict, di Civiel en Militair Gevangenhuis di Weltevreden selama satu tahun. Selain Student Hidjo, selama setahun di penjara itu, Marco juga menulis buku Sair Rempah-Rempah, Matahariah dan masih ada yang lain yang tak disebutkan. Sudah jelas tampak bahwa Marco adalah seorang penulis yang produktif. Tulisan lain yang sangat terkenal judulnya bahkan hingga saat ini dan sering dianggap sebagai idiom cita-cita komunisme adalah Sair Sama Rata Sama Rasa yang kemudian juga menjadi slogan dan semboyan dalam perjuangan.
Menurut Pramoedya Ananta Toer, semboyan Sama Rata Sama Rasa ini, di kalangan rakyat jelata mempunyai kekuatan yang menghidupi, dan kekuatan ini, yang tidak menarik para sarjana, telah memberikan sumbangan yang tidak sedikit artinya bagi perjuangan untuk memenangkan kemerdekaan nasional dan keadilan sosial. Karena bagi rakyat, kemerdekaan nasional yang ditingkatkan dengan revolusi nasional diharapkan sekaligus mengandung di dalamnya keadilan sosial sebagaimana disebutkan tanpa sembunyi-sembunyi dalam salah satu sila dari Pancasila. (Pramoedya Ananta Toer, Realisme Sosialis dan Sastra Indonesia, Lentera Dipantara, Jakarta, cetakan II 2003;96)
Selain sebagai pengarang sastra, Marco juga dikenal aktif dalam kegiatan jurnalisme dan politik. Ia dikenal sebagai pendiri pertama kali organisasi wartawan di Hindia Belanda, Inlandsche Journalisten Bond, IJB, di Surakarta tahun 1914, aktif di organisasi Serikat Islam sejak tahun 1911 dan meninggal dalam pangkuan organisasi Partai Komunis Indonesia, PKI, dalam pembuangan di Digul, Papua pada tanggal 18 Maret 1932. Marco Kartodikromo dilahirkan di Cepu, Blora, sekitar tahun 1890 dari keluarga priyayi rendahan dan sempat memperoleh pendidikan Ongko Loro di Bojonegoro dan sekolah swasta bumiputera Belanda di Purworejo.
Melalui novel ini, Marco dengan lembut, ringan, sederhana tapi tajam menyampaikan cita-cita dan pandangannya terhadap kolonialisme Belanda, termasuk dunia kapitalisme. Selain menceritakan hubungan perjodohan, percintaan dan pacaran model Eropa dan Timur, latar cerita novel ini adalah kongres Serikat Islam, di Solo yang begitu meriah dan penuh dukungan dari rakyat. Hidjo tokoh utama dalam novel ini digambarkan sebagai student atau mahasiswa yang briliyan, cerdas dan cinta pada negeri dan keluarganya walau juga paham betul soal-soal sopan-santun adat Eropa. Ia pun dicintai banyak orang termasuk orang-orang Eropa.
Ketika Hidjo sampai di Amsterdam untuk melanjutkan studi ke Delf, tumbuhlah kesadaran yang luar biasa bagi dirinya yaitu bahwa mulai saat itu Hidjo bisa memerintah orang-orang Belanda. Orang yang mana kalau di Tanah Hindia kebanyakan sama bersifat besar kepala. Di sebuah Hotel, Hidjo dihormati betul oleh para pelayan hotel. Sebab mereka berpikir, kalau orang yang baru datang dari Tanah Hindia pasti banyak uangnya. (h. 46)
”Kalau di Negeri Belanda, dan ternyata orang-orangnya cuma begini saja keadaannya, apa seharusnya, orang Hindia musti diperintah oleh orang Belanda.” (h. 46)
Di bagian lain, konsepsi dunia kapitalisme disampaikan dengan ringan ketika Raden Nganten dan Raden Potronojo, orang tua Hidjo merasa tidak pantas bila sebagai keluarga saudagar hendak melamar putri seorang regent.
“Apakah Raden Ayu dan Raden Mas Tumenggung tidak malu mempunyai anak kawin dengan anaknya orang yang hina seperti kita?” tanya Raden Nganten bergurau
“Tidak Raden Nganten, zaman sekarang ini tidak ada lagi orang hina dan mulia. Kalau dipikir, sebetulnya semua manusia itu sama saja. Saya seorang Regent, itu kalau dipikir mendalam, badan saya ini tidak ada bedanya dengan jongos atau tukang kebun Belanda. Jadi saya ini sebagaimana perkataan umum ’buruh’ . Maka dari itu umpama anak saya kawin dengan anak Tuan apa jeleknya? Asal yang menjalaninya suka!” begitu kata Regent dengan panjang lebar kepada Raden Nganten (h.136-137).
Lihatlah, betapa berbeda 180 derajat dengan tema perkawinan dan perjodohan pada novel Azab dan Sengsara, Merari Siregar yang ditulis dua tahun kemudian dan diterbitkan Balai Pustaka dan tentu saja juga dengan novel Siti Nurbaya karya Marah Roesli dalam tema yang sama perkawinan dan perjodohan yang juga diterbitkan Balai Pustaka. Pada Azab dan Sengsara, perjodohan masih mempertimbangkan orang hina dan mulia. Ayah Aminuddin tak menginginkan Aminuddin menikah dengan Mariamin yang miskin dan papa tapi menginginkan perkawinan yang sederajat, bangsawan dan kaya. Pada Siti Nurbaya, perjodohan dipaksakan oleh orang tua sementara pada Student Hidjo, Asal yang menjalaninya suka!
Membaca isi novel ini yang begitu kritis terhadap kolonialisme Belanda, sudah sewajarnya bila Penjajah Belanda melalui Balai Pustaka (1917) yang dilandasi nota Dr Rinkes itu tidak mengakui kesastraan Novel ini dan memasukkannya dalam kelompok bacaan liar. Yang mengherankan, justru sebagian dari kita saat ini, masih melupakan atau bahkan mengabaikan kemunculan novel ini dalam perkembangan Sastra Indonesia dan menganggap tidak penting kepengarangan dan perjuangan Marco Kartodikromo dalam melawan penjajahan Belanda dan melulu hanya berpatokan pada Balai Pustaka dengan kemunculan Novel Merari Siregar, Azab dan Sengsara itu.
Student Hidjo, sebuah Novel, layak dibaca kembali terutama oleh para pelajar dan mahasiswa saat ini agar semakin memahami dunia student di bawah penjajahan Belanda dan ketika jaman benar-benar dibangkitkan untuk bergerak oleh para pemuda terpelajar Hindia Belanda dengan berbagai cita-cita dan kehendak untuk merdeka dari penjajahan, terlebih dunia kita saat ini yang seakan kembali mengalami penjajahan baru, dengan semakin dikuasainya kekayaan alam bangsa kita oleh asing, privatisasi gila-gilaan BUMN-BUMN dan hancurnya industri nasional kita seperti industri gula, kopi, kayu….dan yang lain-lain akan menyusul..?
Jakarta, 9 November 2010
http://berdikarionline.com/suluh/2010...

Gusti
- Jakarta Pusat, DKI Jakarta, Indonesia
3
Sat, 03 Jun 2017

Too many unexplained side story, this book is not adequate for my taste.

Nadia
- Yogyakarta, Indonesia
3
Fri, 30 Nov 2012

Buku ini HARUS dibaca tiap anak Indonesia. Sekali lagi: HARUS.
Ceritanya sederhana, tidak banyak konflik, dan happy ending. Maka dari itu, cerita ini bisa dibaca siapapun, bahkan tiap anak Sekolah Dasar di Indonesia.
Kenapa kubilang harus? Barangkali sama seperti alasan kenapa buku ini dilarang Pemerintah Kolonial. Karena ya, orang Hindia memang tidak perlu lah membudak pada orang Belanda. Dan paradigma bukan budak memang harus ditanamkan sejak dini pada anak-anak Indonesia, agar tidak menjadi generasi dengan pikiran terjajah. Apalagi sudah terlanjur banyak yang membaca buku semacam Laskar Pelangi itu. *ah masih dendam*
Ungkapan lucu di buku ini, bahwa ada tertawa penuh, ada setengah tertawa, dan ada seperempat tertawa. Ada ya.
Student Hijo diterbitkan bersambung tahun 1918. Anak muda seratus tahun lalu menggunakan bahasa Belanda, Melayu, dan Jawa sekaligus. Bahasa campuran digunakan dalam bahasa gaulnya. Yang aku penasaran, seperti apa bahasa Indonesia sehari-hari sekarang, yang akan dibaca orang-orang 100 tahun mendatang? Apa ciyuus? Miapah?

Related Books of "Student Hidjo"

Olenka Pdf Book
by Budi Darma
Kubah Pdf Book
by Ahmad Tohari
Southern Mail Pdf Book
by Antoine de Saint-Exupéry
Pemberontakan Petani Banten 1888 Pdf Book
by Sartono Kartodirdjo
Sejarah Sumatra Pdf Book
by William Marsden
Lampuki Pdf Book
by Arafat Nur
Dadaisme Pdf Book
by Dewi Sartika
Ziarah: Sebuah Novel Pdf Book
by Iwan Simatupang
Dian Yang Tak Kunjung Padam Pdf Book
by Sutan Takdir Alisjahbana